Assalamu'alaikum Wr. Wb
"Apa pandangan Islam terhadap sikap merendahkan oang lain ? " Ada satu kebijakan yang selalu harus kita terapkan dalam kehidupan. Dengan kebijakan tersebut, tindakan kita jarang akan gagal. Kebijakan itu adalah memuji orang lain dengan sopan dan apa adanya, itu akan dapat merebut hati seseorang. Siapapun itu, se-wara' dan se-zuhud apa pun, tapi bila menghadapi pujian hatinya pasti akan luluh dan merasa sejuk. Dan, tentunya tergantung banyak sedikitnya pujian yang dilontarkan.
Ada seseorang yang pernah duduk dengan para ulama yang ketakwaan dan pemahamannya terhadap agama sangat dalam. Dan, dia dapat merasakan bahwa ketika mereka mendapatkan ucapan terima kasih dan pujian, maka jiwa mereka akan luluh dan tampak jelas gurat-gurat kegembiraan di wajahnya. Kata-kata yang lembut memiliki dampak yang sangat kuat di dalam hati. Dan, manhaj yang benar dari Rasulullah saw menyuruh kita untuk menempatkan manusia sesuai dengan posisinya, dalam bentuk penghormatan. Kemampuan diri untuk menempatkan orang lain dan diri kita sendiri bahagia dengan menciptakan komunikasi yang baik, merupakan karunia Allah swt.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikp keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu" QS. Ali-Imran : 159
Penulis buku How To Win Friend and Influence People - Dare Carnegie melihat bahwa salah satu aktor untuk bisa merangkul hati orang lain adalah memuji dengan sebanyak-banyaknya. Tapi pendapat demikian tidak sejalan dengan ajaran agama Islam. Sesuai dengan firman Allah swt :
"Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu" QS. ath-Thariq : 3
Ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidak boleh memuji yang tidak-tidak, tidak boleh terlalu kering, dan tidak boleh terlalu pelit dalam memberikan pujian. Tapi harus dilakukan dengan cara yang normal (bermoral), penuh etika yang tinggi, dan kejujuran terhadap nilai-nilai kebenaran.
Baik saya maupun anda birsungut-sungut dan bermuram durja di depan orang lain. Tapi resikonya, kita akan merugi karena kita kehilangan mereka. Sementara mereka tidak merugi sedikitpun karena mereka akan menempatkan orang lain yang lebih tawadlu', yang tersenyum kepada mereka, dan yang lebih merendah di hadapan mereka.
"Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman" QS. al-Hijr : 88
Suatu hal yang membuat kebahagiaan di hati adalah kemampuan menarik hati orang lain. Bagi kita,
orang lain adalah pihak yang akan memuji, mendo'akan, mencintai dan apresiatif terhadap diri kita. Orang lain adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.
Sangat terbuka pintu bagi siapa saja agar bisa diterima oleh orang lain, yang tidak harus membelinya dengan harta senilai harta Qarun, tidak dengan senilai kerajaan Sulaiman, dan tidak pula dengan yang senilai Khalifah Harun ar-Rasyid. Siapapun bisa diterima orang lain, asalkan niatnya didasarkan pada ketulusan hati kepada Allah, karena kecintaan kepada orang lain agar menjadi baik, karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan karena ketidaksukaanya untuk memanjakan jiwa.
Dan memang sikap terpuji dan sikap yang baik itu melelahkan. Mengapa ? Karena sifat-sifat seperti itu bersifat mengangkat. Sebaliknya, sifat yang buruk dan bertabiat kasar itu condong sangat mudah untuk dilakukan karena karakter seperti itu membuat pelakuknya turun derajatnya. Logikanya, naik itu sulit dan turun itu mudah.
Siapa yang meremehkan akan mudah diremehkan,
dan sebujur mayat itu tidak akan merasa sakit apabila dilukai...
Disebutkan dalam sirah Rasulullah bahwa yang membuat Jabalah Ibn al-Ayham berpaling dari Islam adalah karena dia merasa diremehkan posisinya dan tidak mendapatkan perhatian sebagaimana yang dia harapkan.
Apa manfaat yang kita dapat dari merendahkan orang lain ? Mereka tidk akan pernah menarik lagi langkah-langkah mereka sendiri. Mereka hanya akan merasa terganggu dan merasa disulut api kebencian.
Oleh sebab itu, pujilah hal-hal baik dalam kehidupan orang lain, tanamkan kepada mereka sifat-sifat kebaikan, dukung tindakan positif mereka, dan tutup matamu rapat-rapat terhadap keburukan dan kekurangan mereka.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb


0 Comments